SOCIAL MEDIA

Saturday, December 6, 2025

Kenapa Penguatan AQIDAH pasca bencana itu penting?

 

Senang sekali rasanya kemarin membaca postingan story instagram Ust Salim A Fillah tentang akan adanya team yg akan membentengi aqidah untuk membersamai para korban banjir di Sumatra Utara. Sistematika beliau dan team atas bencana dan handling korban menurut saya bagus sekali dan sangat terstruktur.

Ketika bencana alam terjadi, semua tahu bahwa ada orang-orang yang kehilangan rumah, pekerjaan, dan bahkan orang-orang terkasih. Akan ada banyak pihak yang dengan cepat fokus pada bantuan material seperti makanan, obat, juga tempat tinggal. Tapi ada sesuatu yang sering terlewat, sesuatu yang sama sekali tidak terlihat tapi dampaknya sangat dalam, yang disebut spiritual crisis.

Spiritual crisis adalah ketika iman dan makna hidup seseorang terguncang. Korban bencana tidak hanya menghadapi trauma fisik, tapi juga pertanyaan-pertanyaan yang menggerogoti dari dalam.

Mengapa Allah membiarkan ini terjadi? Apakah ini hukuman karena dosa-dosa kami? Bagaimana bisa aku percaya lagi padaMU ya Allah?

Dua penelitian terbaru membuktikan betapa seriusnya spiritual crisis ini. Penelitian dari Jamba Journal pada 2020 mempelajari korban tsunami Aceh 2004. Hasilnya sangat mengejutkan. Korban yang punya kepercayaan spiritual kuat, yaitu yang percaya bahwa setiap kejadian adalah ketetapanNYA dan pasti akan ada hikmah di dalamnya, maka akan recover dari trauma psikologis 2-3x lebih cepat dibanding yang tidak punya landasan spiritual. Tidak hanya itu, penelitian juga menunjukkan kalau korban tanpa penguatan akidah akan mengalami 5x lebih berisiko untuk depresi.

Penelitian lebih baru lagi dari Universitas Washington tahun 2024 memperkuat temuan ini. Mereka melakukan uji coba terkontrol dengan 200 orang korban trauma perang di Somalia. Program yang mereka jalankan dinamakan Islamic Trauma Healing, yang menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan teknik psikoterapi modern. Hasilnya luar biasa. Gejala PTSD berkurang 47% dan depresi berkurang 56%. Bagaimana mekanisme utamanya? Dengan Meaning-making melalui spiritual framework, yaitu memberikan makna pada apa yang mereka alami melalui perspektif spiritual yang sehat.

Lalu mengapa akidah begitu powerful dalam penyembuhan?

Ini bukan hanya soal kenyamanan emosional. Ada penjelasan sains didalamnya. Ketika seseorang berdoa atau berdzikir dengan khusyuk, terjadi sesuatu yang nyata di dalam otak. Area logika dan reasoning di prefrontal cortex jadi aktif, sementara amygdala yang merupakan pusat ketakutan yang hyperactive setelah trauma akan menjadi tenang. Hasilnya adalah apa yang disebut dengan healing neurochemistry, yaitu hormon stres menurun, serotonin naik, dan tubuh berada dalam kondisi optimal untuk recovery.

Tapi ini masih belum semua. Akidah ternyata bekerja pada level yang lebih dalam lagi. Pertama, akidah memberikan makna. Trauma yang tidak bermakna adalah depresi. Trauma yang punya makna adalah sesuatu yang bisa ditanggung. Kedua, akidah yang benar akan memberikan sense of agency, perasaan bahwa kita tidak sepenuhnya helpless. Prinsip Islamic, Ikhtiar plus Tawakkul, yaitu berusaha maksimal sambil percaya kepada Allah akan membuat orang merasa diberdayakan, bukan putus asa. Ketiga, akidah menghubungkan dengan komunitas. Masjid bukan hanya tempat ibadah, masjid adalah support system alami yang sudah ada di masyarakat. Keempat, spiritual practice seperti doa, shalat, dan dzikir adalah teknik regulasi emosi yang sudah terbukti. Dan yang terakhir, akidah memberikan harapan, sebuah keyakinan bahwa ada masa depan yang lebih baik menanti didepan.

Mari saya berikan contoh agar memudahkan anda melihat perbedaannya. Ada seorang korban yang kehilangan rumah dan tiga anggota keluarga. Dia sangat sedih, tentu saja. Tapi dia memiliki akidah yang kuat. Dia berkata, "Saya sudah berusaha keras untuk menyelamatkan diri dan membantu orang lain. Sekarang saya percaya yang terjadi ini adalah yang terbaik dari NYA. Keluarga saya adalah amanah dari Allah, dan saya percaya mereka Insyaallah syahid." Enam bulan kemudian, dia mulai membangun kembali kehidupannya. Apakah dia masih sedih? Pasti. Tapi sedih yang bearable, yang bisa diproses, yang tidak menutup jalan menuju pemulihan.

Sekarang bayangkan korban lain yang trauma levelnya sama, kehilangannya sama berat. Tapi dia tidak memiliki framework spiritual. Dia hanya tanya, "Mengapa ini terjadi? Apa salahku? Buat apa aku hidup? Aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi!" Dua tahun kemudian, rumahnya sudah dibangun kembali, tapi depresinya masih mendalam. Dia masih menghadapi pikiran bunuh diri. Rumah sudah selesai, tapi hatinya tetap kosong.

Perbedaan mereka bukan pada tingkat trauma. Keduanya sama sakitnya. Perbedaannya adalah ada atau tidaknya spiritual framework untuk memproses "mengapa" itu terjadi.

Jadi jika anda bekerja di bidang bantuan bencana, atau jika anda mengenal korban bencana, ada satu hal yang sangat penting, yaitu jangan lewatkan dimensi spiritual. Ini bukan nice to have, bukan sekadar nilai tambah. Ini adalah essential untuk recovery yang sustainable. Dengarkan pertanyaan iman mereka dengan empati dan tanpa menghakimi. Dorong mereka untuk kembali ke komunitas. Bantu mereka mereframe makna, bahwa semua yang dialami dan terjadi ini bukan sebuah hukuman. Dan jika memungkinkan, libatkan tokoh agama yang benar-benar memahami trauma psychology.


Karena pada akhirnya, trauma yang hilang makna adalah depresi. 
Tapi trauma yang punya makna akan jadi pembelajaran.

 

Duka terdalam untuk keluarga kami, korban banjir di Sumatra Utara dan sekitarnya. Trimakasih banyak untuk beliau, ust Salim A Fillah dan team, yang sangat terstruktur memikirkan ini semua hingga level pendampingan aqidah.


Wednesday, October 22, 2025

  

Kalau AI Udah Bisa Ngajarin Semua, 

Lalu Peran Kita Apa? 

 

    Sebelum nyelamin lebih dalam tentang gimana Korea Selatan merevolusi pendidikan tinggi mereka dengan kecerdasan buatan, izinkan saya kenalin dulu sama sosok yang jadi narasumber utama di konferensi ICERI ke-13 15 Oktober 2025 kemarin. Oh Jin Park, atau yang sering dipanggil Joshua Park. Beliau ini akademisi dan praktisi pendidikan yang sekarang kerja di Jakarta International University sekaligus mendirikan 3PLINK International. Kredibilitas beliau bahas kebijakan AI dan pendidikan itu bukan tanpa alasan. Park udah sering jadi pembicara di berbagai forum internasional, termasuk di Yonsei University of Science & Technology tahun 2017 dalam seri kuliah publik “The Future of Humanity” yang juga ngundang pembicara dari Cambridge University dan Faraday Institute. Malah di tahun 2025 ini, beliau juga jadi pembicara di General Lecture di Jakarta International University bareng para pakar lainnya, ngebahas inovasi buat masa depan yang lebih cerdas dengan AI, blockchain, dan kewirausahaan berkelanjutan.



    Oh Jin Park nggak cuma paham lanskap pendidikan Korea Selatan yang udah maju banget secara teknologi, tapi juga tantangan pendidikan di Asia Tenggara. Kepakaran beliau ngerancang strategi pendidikan berbasis AI bikin beliau jadi referensi penting buat siapa aja yang pengen ngerti gimana teknologi seharusnya diintegrasiin secara bijak dalam ekosistem pembelajaran, termasuk saya yang berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini.

    Semua orang udah aklamasi lah ya tentang betapa pentingnya periode golden age ngebentuk dasar pembelajaran anak. Tapi pertanyaan yang terus ngganggu pikiran saya adalah gimana nantinya bisa nyiapin anak-anak buat dunia yang bakal mereka hadapi sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, di mana AI bukan lagi cuma fiksi ilmiah tapi jadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari?

Presentasi Oh Jin Park tentang AI literacy, ethical framework, dan human-centered approach menurut saya sangat applicable buat level pendidikan paling dasar. Mari saya kutuin satu-satu ya. Mulai dari sebuah momen tahun 2016, dunia ngeliat pertandingan bersejarah antara AlphaGo, sebuah program AI dari Google DeepMind, lawan Lee Sedol, salah satu pemain Go terbaik di dunia. Permainan Go, yang katanya lebih kompleks dari catur dengan kemungkinan langkah yang hampir nggak terbatas, selama ini dianggap sebagai area eksklusif kecerdasan manusia. Pas AlphaGo menang di pertandingan itu, bukan cuma pride Lee Sedol yang hancur, tapi paradigma tentang apa yang bisa dan nggak bisa dilakuin sama mesin mulai bergeser. Korea Selatan, sebagai negara tempat pertandingan itu berlangsung, ngerasain dampak psikologis yang luar biasa. Mereka sadar bahwa era AI bukan lagi bakal datang, tapi udah tiba di depan pintu.

    Momentum ini nggak disia-siain sama pemerintah Korea Selatan. Mereka paham bahwa buat bersaing di era baru ini, transformasi harus dimulai dari sistem pendidikan. Perjalanan AI sendiri sebenernya udah panjang banget. Dari tahun 1936 ketika Alan Turing ngenalkan konsep Turing Machine yang jadi akar dari komputasi modern, sampe tahun 1950 ketika beliau ngusulin Turing Test sebagai benchmark buat ngukur kecerdasan mesin. Terus ada tonggak penting di tahun 1958 dengan machine learningchatbot pertama yang dipake tahun 1966, AI yang jadi advisor medis di tahun 1972, sampe kemenangan Deep Blue lawan Garry Kasparov di tahun 1997. AI juga mulai masuk ke kehidupan sehari-hari lewat televisi tahun 2011, bisa bikin panggilan telepon dan berdebat di tahun 2018, sampe akhirnya ChatGPT dari OpenAI meluncur di tahun 2022 yang bener-bener merevolusi cara manusia berinteraksi sama teknologi.

    Menariknya adalah perkembangan AI nggak cuma terjadi di ranah komputasi murni. Nobel Prize in Chemistry tahun 2018 tenyata directed evolution, dan yang lebih bikin kaget lagi, Nobel Prize in Physics 2024 sama Chemistry 2024yang dapet adalah sebuah penemuan yang berkaitan sama AI, yaitu foundational discoveries dalam artificial neural networks dan protein design plus prediction pake AI. Ini nunjukin bahwa AI bukan cuma alat bantu, tapi udah masuk di berbagai disiplin ilmu. Sekarang adalah era GPT-5, sebuah generative pre-trained transformer yang bisa ngasilin teks, suara, bahkan gambar berdasarkan prompt. Perkembangannya terjadi secara eksponensial, bahkan lebih cepet dari adopsi internet di masa lalu. Landscape aplikasi AI udah beragam banget, dari generative AI kayak ChatGPT, DALL-E, sampe berbagai tools khusus buat riset, coding, desain grafis, dan masih banyak lagi. Dalam konteks pendidikan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah kedepannya bakal pake AI atau nggak, tapi gimana ngintegrasiin AI ini secara bertanggung jawab dan bijaksana.

    Oh Jin Park dalam presentasinya ngajuin pertanyaan-pertanyaan penting yang harus direnungkan bareng-bareng. Apakah teknologi itu netral? Gimana cara manusia masukin teknologi, khususnya AI, ke dalam kehidupan sehari-hari secara responsible dan wise? Apa sebenernya yang pengen dibangun? Buat apa tujuannya? Dan apa implikasinya? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan cuma retorika filosofis, tapi sangat praktis dan urgent buat dijawab, terutama dalam konteks pendidikan.

    Analoginya kayak Swiss Army knife. Pisau lipat Swiss yang multifungsi itu bisa dipake buat berbagai keperluan yang bermanfaat, dari buka kaleng, motong tali, sampe berbagai fungsi survival lainnya. Tapi di tangan yang salah, alat yang sama bisa dipake buat nyakitin orang lain. Teknologi pun gitu. AI bisa jadi alat yang luar biasa buat personalisasi pembelajaran, bikin pendidikan lebih accessible, atau bantu guru dalam administrative tasks sehingga mereka punya lebih banyak waktu buat interaksi sama siswa. Tapi AI juga bisa memperlebar kesenjangan digital, bikin ketergantungan yang nggak sehat, atau bahkan dipake buat surveillance yang invasif.

    Respon publik ke isu-isu ini beragam banget. Oh Jin Park bahkan nulis dua buku tentang topik ini. Buku-buku itu isinya tentang kegelisahan sekaligus optimisme masyarakat Korea terhadap era AI. Mereka nggak mau ketinggalan dalam race teknologi global, tapi juga sangat aware dalam dimensi etis dan humanistik yang harus dijaga. Dalam konteks pendidikan tinggi global, ada beberapa isu krusial yang muncul terkait AI. Pertama adalah gimana AI mentransformasi proses belajar dan mengajar. Kita nggak lagi ngomongin pembelajaran yang one-size-fits-all, tapi personalized learning journey yang bisa disesuaiin sama kecepatan, gaya belajar, dan kebutuhan masing-masing individu. Kedua, pendidikan global lagi ngelakuin rethinking sama etika dan desain. Kita nggak bisa lagi ngajarin konten yang sama dengan cara yang sama kayak sepuluh tahun lalu. Ketiga, dan ini penting banget, adalah positioningAI sebagai partner dalam pendidikan, bukan sebagai competitor atau replacement buat pendidik manusia.

Framework literasi AI yang dikembangin sama Digital Promise nunjukin tiga mode of engagement yang saling terkait yaitu understand, evaluate, dan use. Ini bukan cuma soal pake AI tools, tapi paham gimana AI bekerja, bisa ngevaluasi output yang dihasilin secara kritis, dan kemudian pake dengan bijak. Kayak yang dibilang sama Lidija Kralj, seorang independent expert AI dan Data Education dari Croatia, ngintegrasiin literasi AI ke dalam pendidikan itu penting buat ngebekalin siswa dengan critical thinking skills yang diperluin buat paham, berinteraksi sama, dan berinovasi pake teknologi digital, sehingga nyiapin mereka buat berkontribusi secara lebih bermakna bagi masyarakat.

    Sekarang mari liat gimana Korea Selatan ngerespons tantangan ini. Bulan Juni 2025, mereka meluncurin National AI Strategy dengan target ambisius jadi salah satu dari tiga kekuatan AI terbesar di dunia tahun 2030. Ini bukan cuma mimpi kosong lah. Korea Selatan punya track record yang solid dalam transformasi berbasis teknologi. Mereka punya Sovereign AI Strategy yang jamin kedaulatan mereka dalam pengembangan AI, nggak sepenuhnya bergantung sama tech giants dari Amerika atau China. Mereka juga punya AI Education Roadmap yang udah jalan sejak 2020 sampe 2025, dan buka sekolah-sekolah pascasarjana khusus AI di universitas-universitas top kayak KAIST, POSTECH, dan Seoul National University.

Yang bikin pendekatan Korea Selatan unik adalah integrasi industri sama dunia akademis. Perusahaan-perusahaan raksasa kayak Samsung, LG, dan SK nggak cuma jadi pengguna lulusan perguruan tinggi, tapi aktif kolaborasi dalam research and development. Ekosistem 5G dan AI berkembang beriringan, bikin infrastructure yang support implementasi AI dalam skala masif. Fokus mereka bukan cuma aspek teknis, tapi juga perubahan mindset dan metode pembelajaran.

Filosofi pendidikan Korea yang baru adalah ngasilin lulusan yang bukan hafal pengetahuan, tapi tau gimana nyelesaiin masalah dan manfaatin tools yang ada. Mereka pengen mendidik orang yang nggak cuma pakai AI, tapi bener-bener paham dan bisa jelasin gimana AI kerja. Ini sejalan sama kebutuhan workforce di abad ke-21 di mana adaptability dan continuous learning jadi lebih penting dari cuma stock of knowledge. Seoul National University bahkan buka Department of AI-Integrated Education yang khusus ngelatih instructional design specialists dan teachers yang bisa ngintegrasiin AI dalam pembelajaran. Ini adalah investasi jangka panjang yang strategis banget. Gimana pun canggihnya teknologi, efektivitasnya dalam pendidikan sangat bergantung sama kualitas pendidik sebagai user.

    Transformasi Smart Campus juga jadi fokus utama. Universitas-universitas kayak Yonsei dan Hanyang ngimplementasiin AI dalam campus management dan tutoring, pake learning analytics dan predictive advising buat bantu mahasiswa. Bayangin sebuah sistem yang bisa memprediksi mahasiswa mana yang berisiko dropout berdasarkan pola kehadiran, nilai, dan engagement mereka, terus secara proaktif ngasih intervensi yang tepat. Atau sistem yang bisa ngerekomendasiin course pathway yang optimal buat setiap mahasiswa berdasarkan minat, kemampuan, dan career goals mereka.

Pendekatan Korea Selatan punya beberapa keunikan dibanding negara lain. Pertama adalah koordinasi nasional yang kuat banget antara Ministry of Education, Ministry of Science and ICT, dan National Information Society Agency. Nggak ada fragmentasi kebijakan, semuanya terintegrasi dalam grand strateg. Kedua, AI diintegrasiin across all education levels, bukan cuma di perguruan tinggi. Bahkan di sekolah dasar, mereka udah mulai ngenalin AI textbooksyang interactive dan personalized. Ketiga, dan ini yang paling penting, adalah pendekatan mereka yang human-centered dan ethics-oriented. Mereka waspada banget sama potensi dark side dari AI. Strategi Inovasi Pendidikan AI 2025 mereka mencakup AI-based Smart Learning Systems. Ada AI Math Tutor yang branded sebagai SuperLearning, yang bisa ngadaptasi tingkat kesulitan soal berdasarkan kemampuan real-time siswa. Ada juga kolaborasi intensif antara industri dan universitas, kayak yang dilakuin sama Hallym University dalam Global University Project mereka dari 2023 sampe 2027, di mana mereka ngediriin EduTech Soft Lab yang jadi innovation hub.

    Ministry of Education Korea bahkan meluncurin AI Textbook buat sekolah dasar di mana digital learning tools ini bisa nganalisis perilaku belajar siswa secara real-time dan ngasih personalized feedback. Ini adalah level personalisasi yang dulu cuma bisa dibayangkan dalam private tutoring, sekarang tersedia buat semua siswa. Tentu aja ada concern tentangprivacy dan data security, tapi mereka punya framework yang ketat buat ngelindungin data siswa. Isu kesetaraan akses penting banget dalam konteks ini. Ada yang disebut sebagai problem “Hakwons” di Korea, yaitu lembaga bimbingan belajar swasta yang mahal dan cuma bisa diakses sama keluarga mampu. AI bisa jadi equalizer yang bikin quality education lebih demokratis. Tapi ada juga risiko bahwa mereka yang punya akses ke AI tools yang lebih canggih bakal makin unggul, bikin digital divide baru. Ini adalah salah satu concern yang mereka address secara serius dalam policy framework mereka.

    Korea Selatan juga nggak kerja sendiri. Mereka gabung sama OECD's AI in Education consortium, berpartisipasi aktif dalam UNESCO's AI Competency Framework, dan promosiin regional cooperation di Asia tentang AI ethics dan pedagogy. Mereka sadar bahwa challenges yang mereka hadapi adalah global challenges, dan best practices perlu dibagiin lintas negara. Tentu aja nggak semua berjalan mulus. Ada berbagai challenges dan future directions yang masih harus dihadapi. Gimana nyeimbangin inovasi sama academic freedom? Gimana mastiin inclusion sambil ngatasi digital divide issues? Gimana bangun AI governance literacy di semua level pendidikan pas ini masih dalam formative period dan terus berevolusi?

    Issue academic integrity dan plagiarism jadi kompleks banget di era AI. Saat mahasiswa bisa pake ChatGPT buat nulis essay, apa artinya originality? Gimana design assessment yang truly measure understanding dan bukan cuma ability to use AI toolsFaculty readiness dan training juga jadi bottleneck. Banyak dosen yang ngerasa overwhelmed sama perkembangan teknologi yang begitu cepet dan nggak confident ngintegrasiin AI dalam teaching mereka. Vision Korea buat 2030 ambi banget tapi grounded lah. Mereka ngebayangkin universitas masa depan yang fully leverage AI-driven personalized learning, di mana setiap mahasiswa punya learning journey yang unik dan optimal. Digital literacy, khususnya AI literacy, jadi foundational skill kayak halnya literacy tradisional. Universitas nggak lagi cuma tempat transfer knowledge, tapi jadi innovation hubs yang ngasilin solutions buat real-world problems.

    Yang paling penting, ethics dan creativity tetap jadi core dari pendidikan. Mereka adopsi project-based learning yang fokus ke pprosesnya bukan cuma hasilnya. Mahasiswa belajar solution process design dan solution strategy development, nggak cuma nyari jawaban yang benar tapi paham berbagai cara buat approaching sebuah problem. Creativity dan critical thinking dikembangin lewat reading, discussion, dan meta-cognition, bukan cuma consumptionpasif dari konten.

    Buat saya yang concern di pendidikan anak usia dini, ada beberapa poins yang berharga banget dari pengalaman Korea Selatan ini. Pertama, literasi digital dan AI harus dimulai sejak dini, tapi dengan approach yang age-appropriate. Kita nggak ngajarin coding ke anak TK, tapi kita bisa mulai bangun computational thinking lewat permainan dan aktivitas hands-on. Kedua, human values dan ethics harus jadi dasar sebelum kita ngenalin technology. Anak-anak harus paham dulu konsep empati, fairness, dan responsibility sebelum mereka berinteraksi sama AI. Ketiga, peran pendidik nggak bakal tergantiin sama AI, tapi bakal berevolusi. Guru bakal jadi facilitator, mentor, dan guide dalam learning journeyyang makin personalized.

    Korea Selatan ngajarin kita bahwa transformasi pendidikan di era AI butuh strategic vision yang clear, political willyang kuat, investment yang substantial, dan collaboration yang intensif antara berbagai stakeholders. Tapi yang paling penting adalah keeping the human element at the center. Technology adalah means, bukan end. Tujuan akhir dari pendidikan tetaplah sama yaitu ngembangin manusia yang utuh, yang nggak cuma cerdas secara intelektual tapi juga punya karakter, kreativitas, dan kemampuan buat berkontribusi positif bagi masyarakat.

    Pengalaman Oh Jin Park di ICERI 2025 ini ngasih saya pandangan buat ngeliat gimana si pendidikan di masa depan. Pertanyaannya adalah, apakah kita sebagai pendidik juga ortu udah siap buat adopsi lessons learned ini dan nyesuaiin sama konteks lokal? Atau kita bakal ketinggalan dan cuma jadi passive consumers dari technology yang dikembangin sama negara lain? AI revolution is not coming, it's already here.

 

Yogyakarta, 22 Oktober 2025

Nuri Aprilia H., M.Pd

Thursday, October 16, 2025

Oleh-oleh ICERI

(International Conference on Education Research and Innovation)

Kemarin saya join ICERI (International Conference on Education Research and Innovation) yg ke 13, temanya Navigating the Human-AI Collaboration in Education: Challenges and Opportunities. Keynote speakernya Dr. Fauzan Adziman, Director General of Research and Development Kemdiktisaintek. Yg menarik perhatian saya dari opening beliau, ada satu quote yg disampaikan dari komunikasinya dengan mahasiswa di Oxford, “Engineering technologies, yes they grow exponentially, yet nowhere near the pace of our ideas.” Jadi intinya, teknologi emang berkembang cepet banget, tapi ide dan inovasi manusia sebenarnya jauh lebih cepet. Artinya manusia punya modal berkompetisi di era digital ini, asalkan mau ngoptimalin potensi SDMnya.

Bicara soal potensi SDM ini, Pak Fauzan sangat transparan maparin kondisi riset Indonesia saat ini. Data World Bank 2020 nunjukkin investasi R&D kita baru 0,28% dari GDP, jauh tertinggal dari negara maju. Gapnya cukup bikin saya ngelus dada, terutama dari sisi research capacity dimana negara high income punya 4.149 peneliti per sejuta penduduk sementara kita masih jauh di bawah itu. Tapi di balik kondisi yang bikin ngelus dada ini, beliau juga nyorotin peluang besar yg dimiliki Indonesia. Human Development Index Indonesia meningkat 0,77% per tahun dan yang lebih menjanjikan, proyeksi 2045 nanti 65% populasi Indonesia ada di usia produktif. Ini bonus demografi yang kalau dikelola dg baik, maka bisa bgt jadi game changer. Nah, buat manfaatin peluang ini, pemerintah nggak main-main.

Pemerintah udah punya blueprint jelas lewat Strategi Nasional AI 2020-2045 yg visinya creating an ethical and responsible AI ecosystem to strengthen global competitiveness towards a Golden Indonesia 2045. Yang beliau tekankan berkali-kali, fokusnya bukan cuman ngejar teknologi, tapi lebih ke human empowerment. Gimana AI bisa memberdayakan manusia, bukan MENGGANTIKAN. Dan ini yang bikin saya tertarik, karena konsep human empowerment ini langsung aplikatif di dunia pendidikan.

Nah, bicara soal AI di pendidikan, beliau nyampein tiga potensi besar yang perlu dipahami. Pertama, personalized learning. AI bisa kasih tailored educational experiences berdasarkan individual learning styles, pace, dan comprehension levels. Coba bayangin, sistem bisa nganalisis pola belajar setiap anak secara real time. Anak A saat itu mungkin lebih cepat paham lewat visual, sementara anak B butuh hands on experience. AI bisa otomatis nyesuain konten dan metode penyampaian materi sesuai karakteristik masing-masing anak. Menurut saya ke depannya AI bisa lebih jauh lagi, terutama di level PAUD. Ini bisa diaplikasiin buat kasih stimulus yg sesuai tahap perkembangan anak. Virtual learning assistant bisa banget ngebantu guru mantau perkembangan setiap anak, ndeteksi potensi learning difficulties sejak dini, atau bahkan ngidentifikasi “sesuatu” yg mungkin kelewatan pas observasi manual.

Potensi kedua adalah bridging digital divide. Pak Fauzan njelasin ini sebagai upaya extending quality educational resources to remote and underserved populations. Ini sangat relevan buat konteks Indonesia yg geografisnya kepulauan. Anak-anak di daerah 3T yg selama ini kesulitan akses guru berkualitas, bisa belajar lewat AI powered platform yg interactive dan adaptive, bukan cuman video pembelajaran biasa tapi sistem yg bisa kasih feedback real time, njawab pertanyaan, bahkan nglakuin assessment formatif secara otomatis.

Potensi ketiga yang nggak kalah penting adalah workforce development. Target pemerintah nglatih lebih dari satu juta warga dengan digital skills lewat berbagai inisiatif AI kek digital talent scholarship dan elevAIte Indonesia. Jadi ini tentang gimana nyiapin generasi yg siap ngadepin ekonomi digital, dimana AI dipakai bukan cuman sbg subject yg dipelajari, tapi juga sebagai tool buat ngembangin skill lain kayak critical thinking, problem solving, dan creativity.

Tapi ya, semua potensi besar ini pasti ada tantangannya. Dan ini yang menurut saya penting banget buat dikutuin bareng-bareng. Pak Fauzan sendiri mengakui ada 4 key challenges yaitu digital literacy gap (21,7% stakeholder IT di Indonesia masih ngeliat AI sebagai threat), infrastructure limitations (akses internet belum merata), data privacy and security (cybersecurity challenges), dan ethical implications (algorithmic bias, fairness, transparency). Nah menurut saya, keempat tantangan ini sebenarnya dasar banget dan belum ada solusi yang jelas, terutama soal ethical implications. Kalo AInya dilatih dengan data yang bias, hasilnya juga bisa jadi bias. Misalnya kalau dataset pembelajaran kebanyakan dari konteks urban middle class, maka AI nya bisa jadi kurang efektif untuk anak dari background yang beda.

Untuk njawabin tantangan-tantangan ini, Pak Fauzan notice pentingnya multi stakeholder collaboration. Government leadership, academic institutions, private sector, dan civil society harus kerja bareng. Beliau bilang pemerintah nggak bisa kerja sendiri, harus ada ecosystem thinking. Yang menarik, kolaborasi ini bukan cuman omon-omon. Ada contoh konkret industry pull scheme buat digitalization dengan partner industri kayak PT PLN, PT KAI, dll dan kampus kayak UNS, ITS, UI, dll. Ini bukti kalau ekosistem kolaboratif ini bisa jalan.

Selain ekosistem kolaborasi, beliau juga maparin roadmap temporal yang jelas. Short term (1-2 tahun) fokus establish regulatory frameworks dan develop AI ethics guidelines, medium term (3-5 tahun) scale AI applications dan build digital infrastructure, long term (2045) achieve AI sovereignty dan fully integrate AI for human empowerment. Roadmapnya ambi tapi realistislah kalau semua pihak konsisten ngejalanin.

Setelah dengerin semua paparan beliau, ada satu hal yang bikin saya kepikiran, terutama sebagai parent dan pendidik. Soal ethical implications AI yang disebutkan Pak Fauzan tadi, concern tentang algorithmic bias dan fairness itu kalo nggak dihandle dengan baik, maka bisa jadi boomerang. Apalagi buat aplikasi AI di pendidikan anak usia dini dimana data anak sangat sensitif. Saya belum ngeliat framework ethical yg cukup robust dalam ekosistem di Indonesia saat ini, meskipun roadmapnya udah ada di short term.

Yang paling saya apresiasi dari closing Pak Fauzan adalah penekanan human centric approach. Beliau reminder berkali-kali kalo AI itu tool buat empower manusia, bukan menggantikan. Dan ini yang harus jadi pegangan, terutama yang bergerak di pendidikan anak usia dini. Karena yg dibangun di usia golden age akan nentuin gimana generasi berikutnya menghadapi era AI.

Pulang dari konferensi kemarin, saya jadi yakin. Meskipun nggak semua pekerjaan di 2045 bisa diantisipasi, tapi paling nggak, bisalah mbekelin anak dengan dasar yang kuat. Apa itu?

Critical thinking, creativity, collaboration, communication, plus character values contohnya empati, integritas, dan resilience.

AI dan teknologi harus jadi enabler buat human empowerment, bukan tujuan itu sendiri. Jangan sampai ortu kejebak di formalitas atau kehebohan teknologi, tapi lupa esensi pendidikan yaitu MEMANUSIAKAN MANUSIA. Teknologi tanpa humanitas adalah bencana, humanitas dengan teknologi yg tepat adalah kemajuan. Semoga bermanfaat!


Yogyakarta, 16 Oktoberfest 2025

Tulisan ini sudah di post di instagram https://www.instagram.com/p/DP3OGHdk5BF/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

@nuriiaprilia mari mampir! Mari berdiskusi.

Monday, May 20, 2024

Pentingnya Aktivitas Fisik Untuk Anak Usia Dini:

Semakin Pecicilan Anak, Semakin Bagus Untuk Perkembangannya!

         "Aduh anakku pecicilan amat sih!"

"Haduhh Nak, mbok diem tho!"

      Eiitsss.. nanti dulu buibu. Anak pecicilan, kagak mau diem, suka aktivitas fisik itu ada bagusnya lho!

    Aktivitas fisik untuk anak usia dini merujuk pada berbagai jenis gerakan fisik yang melibatkan gerakan tubuh seperti berlari, melompat, bermain, dan berbagai bentuk olahraga ringan yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini. Ternyata banyak penelitian membuktikan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan anak-anak ada hubungannya sama perkembangan otak anak tersebut.


1.Aktivitas Fisik Menstimulasi Kognitifnya

    Aktivitas fisik dapat meningkatkan aliran darah ke otak, yang pada gilirannya meningkatkan oksigenasi dan nutrisi ke sel-sel otak. Hal ini dapat memperbaiki fungsi kognitif seperti pemikiran, perhatian, dan memori. Selain itu, aktivitas fisik juga dapat mempengaruhi produksi neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin, yang berperan dalam regulasi suasana hati, motivasi, dan fungsi kognitif. Dengan demikian, aktivitas fisik dapat memberikan stimulus positif pada aktivitas otak yang berhubungan dengan kognisi.

    Selain itu, aktivitas fisik juga dapat memengaruhi struktur otak dan plasticitas sinaptik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan volume otak, terutama di area yang terkait dengan fungsi kognitif seperti memori, perhatian, dan pemecahan masalah. Selain itu, aktivitas fisik juga dapat meningkatkan produksi faktor neurotrofik seperti Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang berperan dalam pertumbuhan, diferensiasi, dan kelangsungan sel-sel saraf. BDNF dapat meningkatkan plasticitas sinaptik dan memperbaiki fungsi kognitif. Dengan demikian, berbagai mekanisme ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat memberikan dampak positif pada kognisi anak usia dini melalui pengaruhnya pada aliran darah otak, neurotransmitter, struktur otak, dan faktor neurotrofik.

2.Peningkatan Sirkulasi Darah ke Otak

    Anak yang aktif ternyata sirkulasi darahnya ke otaknya juga bagus. Aliran darah yang lebih baik ke otak membawa oksigen dan nutrisi yang diperlukan oleh sel-sel otak untuk berfungsi secara optimal. Hal ini dapat meningkatkan aktivitas otak dan memperbaiki fungsi kognitif seperti pemikiran, perhatian, dan memori. Selain itu, peningkatan aliran darah ke otak juga dapat membantu dalam proses neurogenesis atau pertumbuhan sel-sel otak baru, yang dapat meningkatkan plasticitas otak dan kemampuan belajar.

    Manfaat dari peningkatan sirkulasi darah ke otak melalui aktivitas fisik termasuk peningkatan fungsi kognitif seperti pemikiran yang lebih tajam, perhatian yang lebih baik, dan kemampuan memori yang lebih baik pada anak usia dini. Dengan adanya oksigen dan nutrisi yang cukup, sel-sel otak dapat bekerja secara optimal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan belajar dan pemecahan masalah pada anak-anak. Selain itu, peningkatan sirkulasi darah ke otak juga dapat membantu dalam menjaga kesehatan otak secara keseluruhan dan mencegah gangguan kognitif di kemudian hari. Oleh karena itu, aktivitas fisik yang meningkatkan sirkulasi darah ke otak dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi perkembangan kognitif anak usia dini.Meningkatnya sirkulasi darah ke otak ini dapat meningkatkan pasokan oksigen dan nutrisi ke sel-sel otak. Hal ini mendukung fungsi otak yang optimal dan perkembangan kognitif yang sehat.

 

    Jadi jelas keliatan hubungan yang erat antara keterampilan motorik dan fungsi kognitif. Melalui aktivitas fisik yang melibatkan gerakan tubuh dan koordinasi, anak dapat mengembangkan keterampilan motorik yang juga berkontribusi pada perkembangan kognitif mereka.

    Lalu jangan cuma sekali dua kali ya bu, sebaiknya aktifitas fisik itu rutin. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang rutin dilakukan tidak hanya berdampak pada kognisi, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, termasuk aspek fisik, emosional, dan sosial. Dengan rutin berolahraga, anak-anak dapat mengembangkan kebiasaan hidup sehat sejak dini, yang dapat berdampak positif pada kesehatan mereka di masa dewasa. Selain itu, aktivitas fisik juga dapat membantu dalam mengurangi risiko obesitas, penyakit jantung, dan gangguan kesehatan lainnya. Dengan demikian, melakukan aktivitas fisik secara rutin pada anak usia dini tidak hanya mendukung perkembangan kognitif mereka, tetapi juga menjaga kesehatan secara menyeluruh.


Sumber:

A. D., & Smith, P. K. (1998). Physical activity play: The nature and function of a neglected aspect of play. Child Development, 69(3), 577-598. 

Hills, A.P., King, N.A. & Armstrong, T.P. (2007). The contribution of physical activity and sedentary behaviours to the growth and development of children and adolescents. Sports Medicine, 37(6).

McLachlan, C., Fleer, M., & Edwards, S. (2010). EARLY CHILDHOOD CURRICULUM Planning, assessment and implementation. New York: Cambridge University Press.

National Association for Sport and Physical Education (2002). Active Start: A statement of physical activity guidelines for children birth to five years. Retrieved 25/02/2009 from http:www.aahperd.org/naspe/template.cfm?template=ns_active.html

Nan Zeng, Mohammad Ayyub, Haichun Sun, Xu Wen, Ping Xiang, Zan Gao, “Effects of Physical Activity on Motor Skills and Cognitive Development in Early Childhood: A Systematic Review”, BioMed Research International, vol. 2017

Saturday, February 13, 2021

Mengenang Prie GS, Dari Saya Seorang Ibu Rumah Tangga

Saya kemarin ๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ข๐™—๐™š๐™œ.
๐™‰๐™œ๐™œ๐™ค๐™ฃ๐™™๐™ช๐™ .
Bagai anak kecil yang lollipopnya direbut paksa dan tak punya kuasa.
Mau tanya “๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ.”
Tapi kok kenapa harus ๐˜๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ?
Pagi itu, selesai sarapan mengenyangkan perut dan mata, Andin merajuk minta mampir di playground dekat restoran di salah satu hotel di Jogja. Ya, kami memang sedang rehat sejenak, jauh dari rumah.
“๐‘†๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘Ž๐‘– ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘š ๐‘๐‘ข๐‘›๐‘ฆ๐‘– ๐‘ฆ๐‘Ž, ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘Ž ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘š๐‘Ž๐‘ข ๐‘โ„Ž๐‘’๐‘๐‘˜ ๐‘œ๐‘ข๐‘ก.” Kata saya mengingatkan.
“๐‘‚๐พ!” yang tertinggal hanya suara, karena detik berikutnya Andin sudah melesat memasuki playground kesayangannya.

Di dalam playground ada perpustakaan kecil, tak banyak buku, tapi menarik. Sambil menemani Andin yang asyik sendiri, saya melihat-lihat buku yang ada. Lalu detik berikutnya HP saya berbunyi. Bunyi yang sama, namun mengabarkan sesuatu yang berbeda.
“๐‘€๐‘Ž๐‘  ๐‘ƒ๐‘Ÿ๐‘–๐‘’ ๐บ๐‘† ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘–๐‘›๐‘”๐‘”๐‘Ž๐‘™.” Kata bapak Hen tanpa ๐™ฉ๐™š๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ ๐™–๐™ก๐™ž๐™ฃ๐™œ-๐™–๐™ก๐™ž๐™ฃ๐™œ seolah beliau begitu percaya, bahwa saya ๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™–๐™  ๐™ฅ๐™–๐™ฅ๐™–.

๐‘†๐‘–๐‘–๐‘–๐‘–๐‘–๐‘–๐‘›๐‘”……
Dunia saya langsung hening.
Lagi-lagi, saya merasakan sakit di dada.
Sakit kehilangan.
Kehilangan guru, panutan, dan penulis kesayangan.

๐˜ฝ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™– ๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ช๐™จ๐™ž๐™– ๐™ž๐™ฉ๐™ช ๐™ข๐™–๐™ ๐™๐™ก๐™ช๐™  ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™ฅ๐™– ๐™ ๐™ช๐™–๐™จ๐™–.
๐™…๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™ฌ๐™– ๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ก๐™–๐™ž๐™ฃ, ๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™ฌ๐™– ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ฅ๐™ช๐™ฃ ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™ .

Dengan mata berkaca-kaca, pikiran saya menerawang jauh, saat bertemu mas Prie. Saya mengenal beliau “lewat” bapak Hen.

“๐ด๐‘›๐‘Ž๐‘˜๐‘š๐‘ข ๐‘™๐‘’๐‘๐‘–โ„Ž ๐‘˜๐‘’๐‘–๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘–๐‘๐‘ข๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ ๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘–๐‘Ÿ๐‘–. ๐ป๐‘Žโ„Ž๐‘Žโ„Ž๐‘Ž…” Kata mas Prie sambil tertawa saat mendengar cerita perjalanan saya menjadi ibu.

“๐‘ˆ๐‘๐‘Žโ„Ž ๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘‘๐‘Ž ๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘›๐‘š๐‘ข. ๐‘†๐‘ข๐‘Ž๐‘ก๐‘ข ๐‘ ๐‘Ž๐‘Ž๐‘ก ๐‘๐‘ข๐‘ก๐‘ขโ„Ž.” Kata beliau sesaat setelah meminta saya tanda tangan diatas kertas kosong selesai membaca tulisan saya.

“๐พ๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘›๐‘”๐‘”๐‘Ž๐‘˜ ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘™๐‘ข ๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘Ž๐‘๐‘Ž-๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ข๐‘›๐‘—๐‘ข๐‘˜๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘–๐‘ก๐‘ข โ„Ž๐‘Ž๐‘‘๐‘–๐‘Ÿ, ๐‘๐‘‘๐‘ข๐‘˜. ๐‘Š๐‘œ๐‘›๐‘” ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘‘๐‘–๐‘Ž๐‘š ๐‘‘๐‘– ๐‘Ÿ๐‘ข๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘Ž๐‘—๐‘Ž, ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘ข๐‘Ž ๐‘ ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž, ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘Ž ๐‘‘๐‘–๐‘Ž๐‘š ๐‘š๐‘ข ๐‘–๐‘ก๐‘ข ๐‘๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž. ๐‘€๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–๐‘˜.” Kata mas Prie tiba-tiba, saat saya mengunyah jajanan pasar, suguhan yang beliau sajikan.
Berikutnya diikuti nasihat-nasihat tentang hidup, tulisan dan gaya bicara.
Nasihat yang sudah pasti tidak akan saya dengar lagi, kecuali saya berharap beliau menyeramahi saya dalam mimpi.


Mas Prie,
sosok ramah, yang membuat waktu begitu cepat saat berdiskusi dengannya.
Sosok yang membuat saya rela nabung bulan-bulan hanya untuk memiliki hampir semua buku-bukunya.
Memanusiakan manusia.
Menertawakan oranglain melalui dirinya.


Jika kamu ingin tertawa terbahak-bahak,
menangis sampai mengambil tissue tetangga,
bahkan menjadi penafsir sarat makna tanpa harus mengalami kejadian serupa,
maka tulisan-tulisan mas Prie jawabannya.

Bacalah!
Dan bersiaplah terpana.

Selamat jalan mas Prie.
Story teller yang saya kagumi.

-
Jogja, 13 Feb 2021
Nuri Aprilia
Dalam sepertiga malamNYA.






Wednesday, January 27, 2021

Konflik Dengan Mertua - Orangtua? Pelajari Geriatri dan Gerontologi. Apa itu?


Apa gerontologi?

Gerontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu: geros yang berarti lanjut usia dan logos yang berarti ilmu.


Maka secara etimologis gerontologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang orang lanjut usia (lansia). 

Para ahli Gerontologi menerapkan ilmu dan segenap pengetahuan yang mereka miliki untuk membantu para lansia menjalani kehidupan yang baik, sejahtera dan bahagia. 
(wikipedia.com)


Apa itu geriatri?

Geriatri berasal dari bahasa Yunani, geron yang berarti orang tua, dan teria yang artinya penanganan terhadap penyakit. Seperti yang diketahui bersama, saat seseorang memasuki usia senja, maka ia mengalami banyak masalah kesehatan.
(halodoc.com)


Kenapa sih kok papaku sekarang nggak logis banget kalau kasih pendapat?
Kenapa sih mamaku kalau malam suka ngeluh nggak bisa tidur padahal seharian nggak tidur?
Kenapa sih papaku sebelum pensiun sehat-sehat aja, kok sekarang malah sakit-sakitan?
Kenapa sih papa-mama kalau diajakin liburan bukannya seneng malah ngeluh melulu?

Ternyata salah dua jawabannya ada di ilmu ini.
So, please daripada “kenapa sih-kenapa sih” mending pelajari betul tentang geriatri & gerontologi.

Alhamdulillah banget saya disodorin “ramuan” ilmu ini dari dokter kesayangan dr.ferlianisamaharani yang datang jauh-jauh dari Jakarta di kelas #enlighteningparenting sharing special Merajut Cinta Orangtua & Mertua (MOM) di Jogja.

Ini ilmu wajib banget dipelajari yang statusnya anak, baik anak kandung maupun anak mantu ๐Ÿ˜
Kenapa?
Saya jadi banyak ngeh-nya tentang mama-papa juga mertua.

dr. Ferlianisa atau yang akrab dipanggil dr.Rani menjelaskan bahwa sindroma geriatri itu bisa aja muncul di usia-usia sebelum 60 tahun, dimana ada penurunan fungsi dalam system tubuh.


APA SAJA SINDROMA GERIATRI?
๐Ÿ”ด  Yang dulunya ortunya sangat logis, cekatan, nyambung kalau diajak diskusi lalu seiring bertambahnya umur jadi nggak selogis dan senyambung dulu.
Ternyata karena adanya penurunan fungsi otak.

๐Ÿ”ด  Yang dulunya ortunya bisa denger dengan nada biasa, eh sekarang harus teriak-teriak agar mereka dengar.
Ternyata ada penurunan fungsi pendengaran.
Dan rasanya ya melelahkan harus bicara berulang-ulang dengan nada keras.
Udah gitu kadang masih ada beda pemahaman. Jangan terus kzl ya gaes.

๐Ÿ”ด  Yang dulunya ortunya jarang sakit, eh sekarang kalau cucunya batuk jadi mudah ketularan.
Ternyata ada penurunan sistem imun, jantung dan paru-paru.
Lalu saya keinget mama mertua yang sering batuk dan sembuhnya lama๐Ÿ’”

๐Ÿ”ด  Kalau diajakin liburan, bukannya seneng malah ngeluh manyun mencucu.
Ya ternyata memang kondisi fisiknya sudah menurun, jadi mudah capek.
Nggak kaya kita yang kuat keliling mall seharian (kita? Aku aja kali ya ๐Ÿคช๐Ÿ”ช)

๐Ÿ”ด. Soal makan nih. Dulu doyan A sekarang nggak doyan. Kita nganggepnya beliau pilah-pilih makanan.
Ternyata karena asam lambung mereka mudah naik efek pengosongan lambungnya lama. Jadinya lidahnya pait. So, bukan karena pilih-pilih makanan ya.

๐Ÿ”ด. Males makan.
Makan dikit, ngeluh kenyang.
 Ternyata karena asam lambung yang mudah naik, bikin gampang mual/perut begah.
Jangan dipaksa makan 3Xsehari ya, tapi 4-5x dengan porsi yang lebih sedikit.
Karena semakin nggak makan, justru asam lambung semakin naik.
Untuk menghindari malnutrisi, kita harus kreatif sediain camilan.

Jaadiii, kalau habis masakin makanan kesukaan mertua terus responnya, “kok masakanmu nggak enak ya? Kurang asin.”
Nggak usah nangis seharian, bahkan sakit hati tujuh turunan.
Itu karena fungsi indra pengecapannya berkurang aja sis. *puk puk ๐Ÿ˜

๐Ÿ”ด. Ada yang semakin tua semakin berkurang indra penciumannya dan ada juga yang sebaliknya, justru semakin sensitif sama bau-bauan.
“Kamu masak apa sih? Kok mama mual ya nyium baunya.”
Yang ngomong mama mertua sambil mukanya datar, matanya mlerok. Ziiing….๐Ÿ‘ป
Terus kita baper nangis dipojokan. *saya banget dulu๐Ÿคช

๐Ÿ”ด. Mudah merasa dingin.
Saya jadi ngeh kenapa mama mertua itu seneng banget pakai baju dobel sweater gitu dirumah.
Ngeh juga kenapa kok mama-papa kalau pakai ac itu suhunya di 27 derajat๐Ÿคฃ

๐Ÿ”ด. Bolak-balik ke kamar mandi.
Ngompol.
BAB/pup sembarangan.
Kadang ni karena mereka males bolak-balik ke kamar mandi, jadinya mereka ngurangin minum ditambah saat BAK membersihkannya nggak maksimal, akhirnya kena infeksi.
Padahal ISK lansia ini menurut dok Rani sangat bahaya, beda efeknya sama ISK di usia kita-kita
(kita? ๐Ÿคฃ).
So, kalau liat ortu/mertua pipis/pup tiba-tiba, jangan refleks ngebentak ya.
Karena lansia ini mudah merasa depresi, tersinggung, lalu jadi menyalahkan dirinya sendiri.
Salah satu solusinya, bisa dengan pakai popok dewasa.

๐Ÿ”ด. Ngira barangnya diambil anaknya, padahal beliau lupa sendiri.
Bolak-balik melakukan kegiatan yang sama, misal mandi 10x sehari.
Padahal tadinya mereka adalah para pejabat, pekerja keras, logis dalam berpikir, rajin baca Al-Qur’an juga buku.
Ternyata karena gangguan neurokognitif yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Bisa jadi akibat pensiun atau kehilangan jabatan.
Paling sering terjadi pada orang yang punya sakit gula, ginjal, darah tinggi, karena obat yang mereka konsumsi.

๐Ÿ”ด  Pakai baju tidur buat kondangan.
Kalau bicara bahasanya jadi kasar.
Bingung ngitung uangnya. Efeknya jadi mudah kena tipu.
Ternyata karena gangguan neurokognitif tadi juga mempengaruhi fungsi pengambilan keputusan.
Kata sis Rani biar kita tuanya nggak ngalamin gangguan neurokognitif, bisa dimulai dengan pilah-pilih apa yang didengar dan dibaca sejak sekarang.

๐Ÿ”ด  Insomnia.
Ini saya jadi inget mama yang bilang susah tidur, padahal beliau bangun jam 03.00, eh malemnya masih susah tidur.
Efeknya beliau mudah emosi karena lelah pengen istirahat tapi nggak  bisa tidur tadi.
Kadang beliau minum obat yang ada efek ngantuknya. Padahal kalau keseringan juga nggak baik.
Kata sis rani, kita bisa kasih saran agar beliau nggak beraktifitas berat 3 jam sebelum tidur.
Jangan minum kopi.
Jangan makan banyak sebelum tidur.
Jangan main hp sebelum tidur.
Banyakin aktifitas yang bikin relax.

๐Ÿ”ด  Parkinson.
Ini dialami papa di bagian tangan dan mulai menjalar ke kaki beliau.
Sebelum pensiun beliau jarang sakit dan nggak pernah ngeluh.
Eh setelah pensiun beliau jadi sakit-sakitan, bahkan nangis karena sakit lututnya.

๐Ÿ”ด  Impotensi.
Ternyata impotensi ini berpengaruh besar terhadap kondisi psikologis lansia.


Jadi APA YANG BISA KITA LAKUKAN?
๐Ÿ’š  Pacing dulu baru leading.
Pahami, jangan nyinyir, apalagi ngeluh di depan mereka.
Mereka mudah depresi melihat dan mendengar bahwa apa yang dialaminya ternyata menyusahkan kita.
Orangtua/mertua juga sebetulnya berusaha beradaptasi dengan berbagai perubahan fungsi tubuhnya.

Ikutin dulu deh apa maunya mereka agar terbangun kepercayaan.
Nanti kalau mereka udah percaya sama kita, maka akan mudah kita arahkan.

๐Ÿ’š  Pastikan mereka jadi orangtua/mertua yang bahagia dan berguna.

Perasaan jadi orang yang berguna ini penting banget karena akan meningkatkan system imun dan daya juang hidup mereka.
Tapi bukan berguna buat dititipin cucu yaa. Lupikir๐Ÿคช๐Ÿ”ช

Kata dr.Rani, buat membersamai orangtua-mertua itu salah satunya membuat mereka BAHAGIA. Bahagianya bukan yang jalan-jalan keliling dunia ya gaes. Bukan! Membuat mereka nggak merasa terisolir aja udah lebih dari cukup.

Maksudnya, anak-anaknya yang sudah berkeluarga kan sibuk sendiri-sendiri ya. Ada yang sibuk kerja, sibuk ngurus anak, ada pula yang sibuk arisan. *eh
Padahal orangtua/mertua itu semakin sendirian alias terisolir tadi, maka semakin pikirannya kemana-mana.

Jadi, saran dr.Rani, daripada semua anaknya dateng bersamaan di satu waktu, mending giliran, dibuat jadwal. Kalau jauh bisa pakai telepon. Jadi orangtua-mertua nggak merasa kesepian.

Disini saya mak tratap. Rumah saya itu “5 langkah” dari rumah mertua. Tinggal ngesot sampai. Dulu saya merasa kondisi ini tak adil adanya. Alhamdulillah sekarang di titik bersyukur punya rumah “5 langkah” dari mertua. Mertua bisa tiap hari main sama Andin. Mereka jadi nggak kesepian, karena Andin bikin hidup lebih hidup. *iklan banget sih ๐Ÿคช


Jadi yuk mulai pejamkan mata, membayangkan kelak kitapun menua.